Asal-usul Nama di Malang Raya (5)

“Buk Gluduk” sebagai Nama Viaduk dan Jembatan di Kota Malang

“Buk Gluduk” sebagai Nama Viaduk dan Jembatan di Kota Malang

Gambar 01: Suasana Viaduk Buk Gluduk Tempo Doeloe  (Sumber Foto: Manchoe Za, 2018 via Group WA Malang Heritage Community)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Masih segar diingatan tragedi setahun yang lalu (2017), ketika sebuah truk kontainer menabrak sebuah viaduk (jalur rel kereta api di atas jalan raya) bernama “Buk Gluduk” di Jalan Embong Brantas, Kota Malang. Seperti dilansirwww.tribun jatim.comdengan judul “Jembatan KA di Kota Malang Miring, Ratusan Penumpang Kereta Api Tukarkan Tiket”, diberitakan bahwa “Jembatan rel kereta api di Jl Embong Brantas terangkat di salah satu sisi hingga akhirnya miring. Hal ini terjadi setelah jembatan itu tertabrak truk kontainer yang dikemudikan M Abdul Rofik. Kontainer yang dibawa Rofik merupakan kontiner setinggi lebih dari empat meter dan memiliki berat sekitar 32 ton. Kontainer itu berisi kertas yang baru diambil dari Pagak, Kabupaten Malang. Benturan itu membuat jembatan sampai tertarik di sisi barat. Akibatnya jembatan rel sisi Timur terangkat hingga 1,5 jengkal telapak tangan orang dewasa sehingga menyebabkan miring sekitar 20 derajat. Hal ini membuat jalur kereta tidak bisa dilalui. Perjalanan sejumlah kereta api terganggu. “Padahal antara pukul 15.00-18.00 WIB, bisa disebut sebagai puncak jam keberangkatan kereta dari Stasiun Malang,” tulis laman berita tersebut.

Gambar 02: Rel di Viaduk Buk Gluduk yang Ditabrak Truk Kontainer di Tahun 2017 
(Sumber Foto:www.radarmalang.id)

Terlepas dari tragedi menyedihkan yang merusak keutuhan viaduk heritage tersebut, menggelitik rasa keingintahuan kita mengapa struktur tersebut dinamakan “Buk Gluduk” mengingat di daerah tersebut juga terdapat sebuah jembatan di atas Sungai Brantas yang memiliki nama “Buk Gluduk”.

Menurut Dukut Imam Widodo, “Lha, yang namanya Buk Gludug itu adanya cuma di Malang saja. Tepatnya di sebelah selatan Jln. Panglima Sudirman. Di situ ada jembatan kereta api. Tempo doeloe, kalau ada kereta api lewat, maka jembatan itu berbunyi gludug … gludug …gludug … Oleh karena itu, di mulut orang Malang jembatan itu dinamai Buk Gludug”. (Dari Buk GludugHingga Stadsklok”, yang dimuat di buku  “Malang Tempo Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, di halaman 85)

Sebagai tambahan, Budiarto Eko Kusumo, dalam artikel online yang berjudul “Viaduk Buk Gluduk Malang”, tahun 2018, dalam lamannya diwww.kekunaan.blogspot.com, menjelaskan, “Buk dalam bahasa Jawa berasal dari bahasa Belanda boog, yang artinya pelengkungan, meskipun jembatan ini tidak berbentuk lengkung. Lama-kelamaan kata ‘buk’ digunakan untuk menyebut semua bentuk jembatan saja”.

Gambar 03: Sebuah Cikar Melewati Bagian Bawah Viaduk Buk Gluduk yang Belum Beraspal
(Sumber Foto: Manchoe Za, 2018 via Group WA Malang Heritage Community)

Berikut ini adalah deskripsi, terkait Viaduk Buk Gluduk, yang dikutip langsung dari buku “Laporan Inventarisasi Warisan Budaya di Kota Malang”, tahun 2013 hasil kerja sama Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang:

Berlokasi di Kampung Embong Brantas, Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, tepatnya di Perempatan Embong Brantas. Perempatan ini menghubungkan jalan menuju ke empat arah, yaitu:

– Di sebelah Utara adalah Jalan panglima Sudirman ke arah Arjosari dan Surabaya.

– Di sebelah Selatan adalah Jalan Gatot Subroto menuju Terminal Gadang.

– Di sebelah Barat adalah Jalan Trunojoyo menuju Stasiun Malang Kota Baru.

– Di sebelah Timur adalah Jalan Ksatrian menuju Tumpang

Gambar 04: Orang-Orang Belanda Tampak Melewati Viaduk Buk Gluduk di Bawah Kereta (Sumber Foto: Manchoe Za, 2018 via Group WA Malang Heritage Community)

Buk Gluduk adalah prasarana transportasi berupa jembatan rel kereta api (KA). Membujur arah Utara-Selatan agak serong ke Barat Laut-Tenggara. Rel kereta api ini menghubungkan jalur Surabaya – Blitar dengan kontruksi jembatan berukuran panjang 43 m, lebar 4,20 m. Tersusun dari balok-balok baja panjang yang dipasang membujur searah dengan rel KA. Setiap kekerapan 1 meter dihubungkan dengan balok baja melintang, dan kemudian keduanya dihubungkan dengan balok baja yang saling bersilangan. Jembatan (viaduk, red) ini disangga dengan dua pilar beton, masing-masing berukuran panjang 6 m, lebar 2,40 m, tinggi 4 m, keduanya berjarak 19,5 m. Kedua pilar beton ini telah membagi perempatan menjadi tiga bagian jalan. Bagian tengah berukuran lebar 19,5 m, sedangkan jalan di sebelah Utara berukuran 9,5 m dan jalan sebelah Selatan 10 m. Bagian bawah jembatan rel KA antara pilar beton dengan diperkuat dengan dua plat beton pipih tegak, berukuran lebar 30-an cm, tinggi 1 m. Tepat di bagian tengah-tengah antarbalok beton, di kanan-kiri rel diberikan pagar baja/pendamping dengan ukuran panjang 19,5 m, tinggi 2 m. Pagar pendamping berbentuk trapezium, tersusun dari balok-balok baja yang horizontal. Pada setiap jarak 2 m dihubungkan dengan balok baja vertikal. Antara balok-balok baja vertical dihubungkan dengan balok baja secara diagonal yang membentuk seperti meander. Kelanjutan ke arah Utara dan Selatan, rel KA ditahan dengan tanah yang ditinggikan (tanggul). Dasar tanggul berukuran lebar 14,5 m, semakin ke atas semakin mengecil. Bagian atas tanggul sebagai alas rel KA. Rel KA tidak langsung menyentuh tanggul, keduanya diberikan koral dan bantalan-bantalan balok kayu yang melintang. Saat ini, di bagian bawah kanan-kiri tanggul digunakan sebagai pemukiman masyarakat Kampung Embong Brantas.

Gambar 05: Jembatan Buk Gluduk Tempoe Doeloe
(Sumber Foto: Manchoe Za, 2018 via Group WA Malang Heritage Community)

Kemudian, tak jauh dari viaduk tersebut terdapat struktur yang bernama “Jembatan Buk Gluduk”. Jembatan ini juga dikenal sebagai “Jembatan Brantas”, penghubung dari Kelurahan Kesatrian, Kidul Dalem dan Jodipan. Jembatan ini juga penghubung jalan utama poros Kota Malang yaitu Jl. Panglima Sudirman dengan Jl. Gatot Subroto, sekaligus menjadi akses pertama jalan menuju Kabupaten Malang. Kini jembatan tersebut menghubungkan beberapan destinasi wisata Kampung Tematik di Kota Malang, yaitu Kampung Warna-Warni di Kelurahan Jodipan, Kampung Tridi di Kelurahan Kesatrian, dan Kampung Biru Arema di kelurahan Kidul Dalem.

Sejarawan Malang M. Dwi Cahyono, dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita: Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, than 2013, halaman 22, menjelaskan: “Relatif bersamaan dengan pembangunan Loji Belanda (Benteng, kini RSUD Saiful Anwar, red) pertama di Kota Malang tahun 1767, dibanguunlah sebuah jembatan panjang, yang boleh jadi mulanya berupa jembatan kayu. Ketika kendaraan beroda kayu, seperti pedati (cikar glodak) dan dokar melintas, timbul suara “Gluduk-Gluduk”.Onomatopea itulah yang menjadi latar penamaan bagi jembatan (buk) ini yakni, Buk Gluduk,” terang Dwi.

Dwi melanjutkan, “Batang Sungai Brantas di sekitar Buk Gluduk memiliki lebar, terlebar bila dibanding dengan ruas lainnya. Buk Gluduk oleh karenanya merupakan jembatan Brantas yang terpanjang di Malang Raya. Hal ini disebabkan oleh adanya cekungan tanah luas, tepat di Utara alirannya dan jelang belokan aliran dari Barat-Timur menuju ke Utara-Selatan. Kini tanah cekung itu menjadi areal hunian yang sangat padat, dengan sebutan Brantas Ledok, yang terdiri atas: (a) Brantas Ledok Kulon dan (b) Brantas Ledok Wetan. Keduanya dipisahkan oleh Buk Gluduk.

Unsur nama “Brantas” juga dipakai untuk menamai jalan di utara Buk Gluduk, yaitu Embong Brantas. Jika Kota Batu mempunyai desa yang berunsur nama “Brantas”, yakni Sumber Brantas, maka Kota Malang mempunyai kampung dan jalan yang juga berunsur nama “Brantas”. Penggunaan unsur nama “Brantas” ini menjadi petanda bahwa bagi masyarakat di Malang Raya, Brantas penting artinya, hingga namanya diabadikan untuk menamai desa, kampung dan jalan”. (*)

Editor : Noordin Djihad