BPF Malang Bukukan Transaksi Kisaran Rp53 Miliar

BPF Malang Bukukan Transaksi Kisaran Rp53 Miliar

Pimpinan Cabang BPF Malang, Andri. (Foto: Noordin Djihad-aremamedia.com)

MALANG – Transaksi perdagangan berjangka PT Bestprofit Futures (BPF) Malang sepanjang 2018 bukukan kisaran Rp53 miliar. “Angka itu tidak pasti karena perhitungan kami berdasarkan lot. Nah pada 2018 terjadi transaksi 53,507 lot, meningkat 71,03 persen dibanding tahun 2017,” terang Pimpinan Cabang BPF Malang, Andri seraya menyebut untuk target 2019, dirinya dipatok kenaikan 20 persen atau sekitar Rp65 miliar.

Andri optimistis pihaknya bisa mencapai target tersebut melalui direct contacting dan selling. “Langkah lain yang kami tempuh adalah edukasi berkelanjutan. “Dalam waktu dekat kami akan mengunjungi kampus menjalankan program Futures Trading Learning Campus (FTLC) bersama Bursa Berjangka dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI),” urai Andri tentang strateginya.

Pernyataan Andri tersebut disampaikan menjawab aremamedia.com saat temu pers tentang capaian BPF Malang maupun secara Nasional. Selain Andri, tiga tokoh yang ikut memberi keterangan, antara lain Direktur Utama BPF, M Khusyen Azhari, Ketua KBI, Fajar W, dan Dirut Bursa Berjangka Jakarta, Paulus.

Khusyen kemudian menambahkan, pihaknya berani memberi target Cabang Malang kenaikan hingga hingga 20 persen karena potensinya sangat besar. Bahkan dibanding Bandung yang merupakan ibu kota propinsi, Malang masih berada di atasnya. “Saya yakin Andri bisa melampaui target tersebut,” yakinnya.

Direktur Utama BPF, M Khusyen Azhari. (Foto: Noordin Djihad-aremamedia.com)

Sementara secara Nasional, Khusyen mengatakan. BPF berhasil membukukan volume transaksi sebesar 832,336 lot sepanjang tahun 2018 atau meningkat 51,90 persen dibandingkan tahun 2017 sebesar 547,933 lot. “Pencapaian tersebut didorong oleh pertumbuhan volume transaksi bilateral (SPA/Sistim Perdagangan Alternatif) sebesar 53,53 persen, menjadi 757,036 lot, sementara hasil volume transaksi multilateral (komoditi) naik 37,29 persen dari tahun sebelumnya sebesar 75,300 lot,” terangnya.

Pertumbuhan yang positif ini tak lepas dari dukungan kestabilan pasar dan harga komoditas terutama pada emas, kakao dan olein. “Meski diselimuti tahun politik yang menghangat, ternyata tidak menyurutkan nasabah untuk berinvestasi di instrumen perdagangan berjangka,” katanya serraya menambahkan saat ini BPF menempati urutan teratas nomor dua dari lima perusahaan pialang berjangka terbesar nasional, berdasarkan data Bursa Berjangka Jakarta.

Dari laporan perseroan, lanjutnya, tercatat total nasabah baru BPF mencapai 2.311 nasabah hingga akhir tahun 2018. “Hal ini mengalami peningkatan sebesar 28,18% dibandingkan tahun 2017 sebanyak 1.803 nasabah baru,” tuturnya.

Saat ditanya tentang bursa berjangka syariah, Khusyen menjanjikan paling lambat awal 2019 terealisasi. “Saat ini sedang digodok. Kalau sudah selesai, tinggal menunggu pengesahan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). KAlau nggakakhir tahun 2018 ini ya awal 2019,” ujarnya.(*)

Pewarta : Noordin Djihad
Editor : SM Nunggal