Biskuit MOCAP, Solusi Cerdas Kurangi Ketergantungan Gandum di Indonesia

Biskuit MOCAP, Solusi Cerdas Kurangi Ketergantungan Gandum di Indonesia

MALANG – Pola makan masyarakat Indonesia, hingga saat ini tidak dapat lepas dari penggunaan tepung terigu. Dari data aremamedia.com, setidaknya impor gandum pada Februari 2018 lalu mengalami peningkatan hingga 11,8 juta ton. Hal ini disebabkan belum ditemukan jenis tepung lain yang sifatnya sama dengan terigu.

Konsumsi gandum paling tinggi diserap industri tepung terigu, yaitu 8 juta ton, sementara sisanya 3,8 juta ton untuk industri pakan ternak dan kebutuhan lainnya.

Hal ini yang menjadi alasan mendasar peneliti berlomba-lomba menciptakan pengganti terigu.

Seperti yang dilakukan Prof. Dr. Ir. Harijono, M.App.Sc dan Prof. Dr. Teti Estiasih, STP., MP, dua guru besar Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Keduanya menciptakan terobosan baru dengan membuat biskuit berbahan baku MOCAP (Modified Cassava Product). Biskuit MOCAP ini menggunakan tepung singkong terfermentasi sebagai bahan baku utamanya.

“Tepung singkong terfermentasi ini memiliki sifat yang hampir sama dengan tepung terigu. Jadi bisa kita gunakan untuk produk cake, bakery, cookies dan biskuit seperti ini,” ungkap Harijono.

Singkong yang digunakan sebagai bahan baku tepung ini pun dapat menggunakan
singkong yang bersianida, sebab sebelum proses penepungan dilakukan proses fermentasi untuk menghilangkan sianida.

“Jadi kita tidak berebut dengan singkong yang dikonsumsi. Bahkan lebih unggul lagi bahan bakunya diperoleh dengan harga yang jauh lebih
murah. Tepung singkong terfermentasi ini tidak hanya berperan aktif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gandum namun juga dapat diuntungkan secara ekonomi,” jelasnya.

Dengan produk ini, lanjut Harijono, menunjukkan tidak selamanya bahan baku murah menghasilkan produk akhir yang tidak berkualitas. Biskuit MOCAP memiliki penampakan, rasa dan kandungan nutrisi yang tidak kalah dengan biskuit berbasis terigu lainnya. *Dengan formulasi yang tepat antara tepung singkong terfermentasi dengan bahan pendukung lainnya membuat biskuit MOCAP layak bersaing dengan biskuit di pasaran. Bahkan dari segi nutrisi, Biskuit MOCAP layak berada di urutan teratas,” urainya.

Menurutnya, tepung singkong terfermentasi memiliki indeks glisemik yang lebih
rendah dibandingkan dengan tepung terigu. Kandungan seratnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan terigu. Dengan mengganti terigu menggunakan tepung singkong terfermentasi membuat produk biskuit MOCAP menjadi gluten free. “Dengan demikian, selain lebih sehat juga aman dikonsumsi siapapun,” jaminnya.

Diharapkan dengan hadirnya biskuit MOCAP menjadi jalan pembuka bagi industri-indutri lain yang menggunakan terigu sebagai bahan baku utamanya untuk segera beralih atau minimal mengganti dengan tepung singkong terfermentasi ataupun tepung selain terigu lainnya. “Apabila semua industri dan masyarakat mulai proaktif untuk mengurangi
ketergantungan terhadap terigu akan berdampak terhadap berkurangnya ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum,” harapnya.(*)

Pewarta: Wahyu Putra Prasetyo
Editor: SM Nunggal