Biaya Mandiri, Sekolah Ini Beri Pelatihan Pembelajaran MIKIR

Biaya Mandiri, Sekolah Ini Beri Pelatihan Pembelajaran MIKIR

Kukar – Dengan menggunakan BOS Nasional, empat sekolah mitra Tanoto Foundation di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar pelatihan pembelajaran mengadopsi program PINTAR Tanoto Foundation. Keempat sekolah yang ada di Kecamatan Tenggarong tersebut antara lain SDN 03, 07, 08, dan 027.

Pelatihan selama tiga hari, 12-14 November 2018 ini diikuti 34 guru dan dipusatkan di SDN 027 Tenggarong Seberang.

“Agar kualitas guru meningkat secara merata, kami berinisiatif untuk mengadakan pelatihan ini secara mandiri memakai biaya BOS Nasional,” ujar I Dewa Made Oka, Kepala SDN 027 Tenggarong Seberang, yang merupakan sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation.

Pelatihan pembelajaran yang dilakukan oleh Tanoto Foundation merupakan pelatihan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran aktif. Dengan kata lain pembelajaran yang berpusat pada siswa dan tidak lagi pada guru.

“Paradigma belajarnya berubah. Kalau dulu kegiatan siswa selama belajar lebih banyak to listen atau mendengarkan guru, sekarang lebih banyak to do, atau melakukan sesuatu. Karena itu guru didorong memiliki kemampuan fasilitasi yang baik,” ujar Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kalimantan Timur, Mustajib.

Bahkan SD 007 Muara Jawa lebih cepat lagi dalam mengadopsi program ini dengan menggelar pelatihan bagi seluruh gurunya yang berjumlah 22 orang. “Saya segera melakukannya karena saya yakin dengan model pembelajaran ini, guru menjadi lebih termotivasi untuk kreatif. Siswa pun menjadi lebih cepat menyerap pembelajaran daripada sebelumnya,” ujar Ketut Arta, Kepala Sekolah SDN 007 Muara Jawa yang pernah menjadi juara II kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi Kalimantan Timur ini.

Dengan model pembelajaran aktif memakai strategi Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi atau MIKIR, pembelajaran lebih mengarah untuk mengaktifkan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Siswa difasilitasi untuk terlibat melakukan percobaan, bekerja sama dalam tim, melakukan analisis dan membuat laporan yang terstruktur dan panjang. “Dengan metode ini, keterampilan lunak atau soft skill seperti kemampuan berkerja sama, kreatif dan berpikir analitis yang sangat dibutuhkan untuk hidup bersaing di masa mendatang, kita asah semenjak dini,” ujar Mustajib lagi. (*)

Pewarta : SM Nunggal
Editor : Noordin Djihad