Berbekal Kotak Rokok, Asir Mampu Beli Rumah dan Enam Motor

Berbekal Kotak Rokok, Asir Mampu Beli Rumah dan Enam Motor

Asir sedang istirahat sambil menanti pembeli.(Foto: M Nurul Yaqin)

JEMBER – Azan asar baru saja bergema di langit Alun-alun Jember. Seorang pria paruh baya bergegas mengemas dagangannya menuju masjid untuk salat sekaligus melepas lelah sejenak.

Usai salat, kembali dia menggeluti dagangannya berupa belasan bungkus rokok berbagai merk dan air mineral. Rokok-rokok itu dipajang di kotak yang terbuka, sedangkan air mineral di dalam dos. Empat di antara puluhan botol diletakkan di atas dos untuk menunjukkan barang yang dijual.

Ya… bermodal kotak kayu berisi rokok dan dos air mineral itulah Muhammad Asir menunjukkan tajinya sebagai kepala rumah tangga. Bahkan ia sanggup membelikan rumah dan motor untuk keenam anaknya. Ia seakan menunjukkan sebagai pedagang kaki lima sederhana yang sukses.

Meski tubuhnya menua di usia 62 tahun, semangat hidupnya tetap tinggi. Setiap hari pria kelahiran Bangsalsari, Jember ini, menata satu persatu barang dagangan yang akan dijual.

Pahit getir kehidupan di pinggir jalan mulai 1973 rela dilakoni demi nafkah keluarga sekaligus biaya sekolah anak-anaknya. Tak ada rumus keluhan dalam benaknya, yang penting halal akan dikerjakan semampunya.

Roda zaman yang menghadirkan persaingan pasar modern dan para pedagang lainnya, tidak membuatnya takut.

“Itu urusan rezeki, ada Allah yang mengatur. Intinya tetap telaten. Walaupun sepi jangan sampai mengeluh. Tidak laku sekarang, mungkin besok. Jadi tidak perlu takut,” ujarnya pendek-pendek dengan logat Jawa.

Kepasrahan mendapat rezeki dari Allah Swt terbayar. Sore itu banyak pembeli yang berdatangan. Bahkan beberapa di antara mereka merupakan pelanggannya membeli rokok.

Untuk menjemput rezeki, Asir memiliki kiat dengan selalu berpindah tempat. Mulai pukul 06.00-08.00, dia berjualan di sisi kiri alun-alun. Selanjutnya ia berganti tempat ke depan Monumen Adipura dekat taman bermain hingga pukul 10.00. Berpindah lagi di trotoar kiri samping lapangan volli di bawah pohon yang rindang hingga pukul 24.00.

Demi mengais rezeki itu pula, Asir mengaku rela tidak pulang hingga tiga hari dengan memilih bermalam di alun-alun. Namun jika ada kegiatan seperti Jember Flower Carnival (JFC) bisa menginap sampai lima hari.

“Saya sering bermalam ketika berjualan di Alun-alun Jember ini. Tempat tidur saya ya di parkiran dekat jembatan penyeberangan yang mau ke masjid itu,” katanya sambil menunjuk sebuah tempat.

Tiga hal yang dipegang erat Asir saat menjadi pedagang asongan. Pertama usaha, kedua doa, dan ketiga istiqomah. Yang terakhir itu bukan nama seorang gadis, namun sikap tetap hati berburu rezeki. “Walau banyak saingan harus tetap istiqomah,” tuturnya sembari melayani pembeli.

Tak ayal, hanya bermodal kotak kayu dengan jualan rokok dan air mineral ia bisa meraup untung Rp200.000 hingga Rp300.000 setiap hari. Sebuah penghasilan yang lumayan cukup untuk menghidupi  istri dan keenam anaknya.

Usianya yang senja tidak membuatnya lelah dan berhenti berjualan. Bahkan berkat semangat dan kegigihannya, Asir mampu membelikan rumah dan motor untuk anak-anaknya sekolah dan bekerja.

Walau secara materi tak lagi kekurangan, pria bertubuh subur ini sedikitpun tidak malu berjualan asongan. Dengan mantap ia membawa sekotak kayu persegi berisi rokok dan sekardus air mineral dari desanya Bangsalsari hingga ke Alun-alun Jember sejauh 18 Km .

“Sampai kapanpun saya akan tetap berjualan seperti ini sampai saya tidak bisa lagi melangkah. Saat itulah saya tidak berjualan,” jelasnya sembari tersenyum.(*)

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Segala isi naskah di citizen journalism ini menjadi tanggung jawab penulis

sepenuhnya dan tidak termasuk berita yang menjadi tanggung jawab redaksi