Berbekal Botol Bekas, Hot Bottles Tembus Amerika Hingga Rusia

Berbekal Botol Bekas, Hot Bottles Tembus Amerika Hingga Rusia

Produk Hot Bottles hasil karya Muhammad Taufiq Saguanto ang sebagian dipajang di rumahnya (M Erwin)

Produk Hot Bottles hasil karya Muhammad Taufiq Saguanto ang sebagian dipajang di rumahnya (M Erwin)

MALANG – sebuah miniatur mobil terpampang di dinding. Warna tembaga bercampur emas berpadu memberi kesan logam berat. Kerajinan bermerek Hot Bottles ini mirip dengan mobil asli, sehingga banyak peminatnya. Bukan hanya konsumen lokal namun juga manca negara. Siapa sangka, miniatur kendaraan ini sejatinya terbuat dari botol plastik bekas yang notabene adalah sampah.

Adalah Muhammad Taufiq Saguanto, pria berbadan subur ini berpikir untuk mengkreasikan botol bekas yang memang banyak ditemui di sekitar rumah. Sampah yang tak ramah lingkungan ini diolah sedemikian rupa sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang bervariatif. Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
“Paling murah pernah Rp 50 ribu, paling mahal Rp 2 juta. Kalau dijual ke luar negeri, antara USD 10 sampai USD 20,” rinci Taufiq kepada aremamedia.com.
Taufiq menjelaskan, pemint hot bottles memang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari pembeli lokal, hingga manca negara meliputi Amerika, Australia, New Zealand, bahkan Rusia. Harga dari setiap produk sangat bervariatif, tergantung dari tingkat kesulitannya.
“Semakin sulit, semakin mahal. Saya juga pernah bikin patung singa buat pajangan di rumah. Tapi sudah hancur ditabrak sepeda anak saya,” ceritanya sembari terkekeh.
Dengan keuntungan relative besar, bahan yang diperlukan justru sebaliknya. Murah dan sederhana. Hanya sampah botol plastic ditambah lem dan cat spray. Jika sudah terbiasa, maka pengerjaan tidak membutuhkan waktu lama.
Karena masih merintis sekitar 1 -2 tahun terakhir, Taufiq mengaku tidak mempekerjakan karyawan khusus. Namun ia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu darinya secara cuma-cuma.
“Saya buka pelatihan. Nggak bayar. Tapi khusus buat yang mau saja. Karena ini juga bagian dari pemberdayaan ekonomi ,” terang pemilik salah satu perusahaan konvensi  ini.

Penulis: Feni Wulandari