Asal-usul Nama di Malang Raya (6)

Badut, Betulkah Berawal dari Nama Seorang Pelawak?

Badut, Betulkah Berawal dari Nama Seorang Pelawak?

Gambar 01: Candi Badut Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan (foto: Devan Firmansyah - aremamedia.com)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.com Devan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Menguak Asal-Usul Nama Dusun dan Candi Badut di Malang
(Edisi VI Mengenal Nama-Nama Tempat di Malang

Sebagian besar masyarakat Malang pasti mengenal Candi Badut. Candi Badut adalah candi tertua di Jawa Timur peninggalan Kerajaan Kanjuruhan sekitar abad ke VIII Masehi. Masyarakat pun pasti juga penasaran, kenapa candi tertua di Jawa Timur tersebut dinamakan Candi Badut. Apakah dahulu tempat itu banyak badutnya? Atau ada sesautu yang lain?

Sejarawan Malang, Suwardono, dalam diktat kecil karangannya yang tersedia di pos penjagaan Juru Pelihara (Jupel) candi tersebut, berjudul “Candi Badut”, tahun 2008, pada halaman 01-02, menerangkan tiga teori mengenai asal-usul penamaan Candi Badut. “Ada beberapa dasar anggapan yang menarik untuk dikaji berkenaan dengan nama Candi Badut. Candi ini dinamakan ‘Badut’ karena letaknya yang berada di Dukuh Badut. Sedangkan asal-usul nama ‘Badut’ itu sendiri terdapat berbagai anggapan yaitu sebagai berikut:

  1. Menurut penduduk setempat nama ‘Badut’ diambil dari nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di situ. Orang sekarang menamakan pohon ‘Badutan’. Pohon ini sekarang masih tersisa satu berada di sebelah tenggara halaman candi, di luar pagar. Karena di sekitarnya banyak tumbuh pohon ‘Badut’, maka daerah tersebut dinamakan Desa (Dusun atau DukuhredBadut. Karena itu candinya pun akhirnya dinamakan Candi Badut, karena letaknya di Desa (Dusun atau DukuhredBadut.
  2. Menurut Poerbatjaraka bahwa nama ‘Badut’ berasal dari nama ‘Garbopati’ (yaitu nama kecil) Raja Gajayana sebelum menjadi raja di Kerajaan Kanjuruhan. Nama ‘garbopati’ sang raja adalah ‘LIÇWA’. Menurut Poerbatjaraka, ‘Liçwa’ merupakan bahasa Jawa/Kawi yang artinya adalah anak komedipelawak, atau badut.
  3. Menurut Van der Meulen, nama ‘Badut’ diambil dari nama Resi Agastya, yaitu seorang resi yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana. Kata badut berasal dari kata ‘Ba’ dan ‘Dyut’. Ba = bintang resi Agastya (Chopus), sedangkan kata Dyut = sinar/cahaya. Jadi, Badyut = sonar atau cahaya resi Agastya. Van der Meulen membuat perbandingan dengan nama candi ‘Mendut’, yang menurutnya berasal dari kata Men = sorot, dan Dyut = cahaya.”, terang Suwardono.

“Dari tiga pendapat dan anggapan di atas mana yang benar  silakan dicari sendiri bukti-bukti kebenarannya. Hanya disini perlu untuk diingat bahwa kebanyakan nama bangunan candi di Jawa pada umumnya mengikuti nama tempat atau daerah dimana candi tersebut berada, maka kemungkinan sekali nama Badut itu adalah nama desa atau daerah yang diambil dari nama tumbuhan. Di Jawa sangat banyak nama daerah yang mengambil nama tumbuhan, seperti cantohnya nama Pakis, Blimbing, Lowokwaru, Karang Lo, Karang Asem, Kayu Tangan, Celaket, Pandanwangi, dan masih banyak lagi. Atau pula diambil dari suatu peristiwa seperti contohnya Desa Klojen (ada loji Belanda), Kauman (tempat kaum muslimin), Kidul Dalem (di selatan ada rumah Adipati/raja), Tumenggungan (tempat tumenggung), dan sebagainya”, tambah Suwardono dalam tulisannya itu. Di antara tiga pendapat tersebut menarik untuk dikuak disini manakah yang mendekati kebenaran. Di akhir kalimat Suwardono cenderung pada pendapat nomor satu. Pada tahun 2014, aremamedia.com sempat mewawancara terkait nama Badut tersebut. “Pendapat bahwa Badut berasal dari kata Liçwa kurang tepat, hal ini dikarenakan para ahli merevisi pembacaan kata Liçwa dalam prasasti Dinoyo tersebut menjadi “Limwa (Limo)”, hal ini cukuplah masuk akal mengingat garbopatinama (nama kecil) raja di Nsantara mestilah nama asli “Indonesia” yang diambil dari unsur nama tumbuhan dan hewan. Tidaklah mungkin ketika baru lahir dan berstatus pangeran namanya sudah berbahasa Sanskerta (India,red). Nama berbahasa Sanskerta digunakan pada saat ia dinobatkan menjadi raja. Baru saat itu nama abhiseka(nama nobatan)-nya berbahasa Sanskerta. Liçwa adalah bahasa Sanskerta sementara Limwa (Limo) adalah bahasa lokal yang artinya Jeruk Limau,” terangnya saat itu. Perlu dicermati, bahwa nama resmi sebuah candi mestilah “tertulis” dalam sumber naskah maupun prasasti. Kita ambil contoh penamaan candi-candi raja-raja dari Kerajaan Singhasari, Hadi Sidomulyo menerangkan dalam bukunya yang berjudul “Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca”, tahun 2007, pada halaman 157, menerangkan: “Dalam prasasti Mula-Malurung, lempeng IIb baris ke 2-3, disebutkan bahwa nama resmi candi pendharmaan Ken Angrok di Kagenengan (kini menjadi Dusun Genengan, Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang) adalah Narasinghanagara. Sedangkan nama resmi candi untuk pendharmaan Anusapati di Kidal adalah Narasinghasana”, terang Hadi dalam bukunya itu.

Gambar 02: Lokasi Dusun “Badoet” di Peta Resident Malang Tahun 1924 Karya F.D.K. Bosch
(Sumber Foto: Suwardono, 2013)

Dengan demikian maka sudah jelas bahwa teori para ahli nomor dua dan tiga tidak dapat dipertahankan lagi dikarenakan nama “Badut” tidak disebutkan di dalam Prasasti Dinoyo I. Dengan demikian maka nama Badut jelas diambil dari nama “Dukuh atau Dusun”, tempat candi tersebut berdiri. Berdasarkan catatan dari buku yang berjudul “Nama-Nama Dusun dalam Desa di Jawa Timur”, yang ditulis/disusun oleh Biro Pemerintahan Desa Sekretariat Wilayah / Daerah (SEKWILDA) Tingkat I Jawa Timur, pada halaman 285, ditulis bahwa Kelurahan Karang Besuki, kecamatan Sukun, Kota Malang, pada saat masih berstatus sebagai desa, membawahi empat buah dusun yaitu Dusun Klaseman, Dusun Sidomulyo, Dusun Gasek dan juga Dusun Badut. Dengan demikian jelaslah bahwa nama nama “Badut” diambil dari nama dusun tempat candi tersebut berada. Diawal dijelaskan bahwa nama dusun itu berasal dari nama “Pohon Badutan” yang dahulu banyak sekali tumbuh di wilayah tersebut. Lantas bagaimana bentuk dan deskripsi dari pohon badutan itu?

Ahli botani bernama Iman Budhi Santosa, dalam bukunya yang berjudul “Suta Naya Dhadap Waru (Manusia Jawa dan Tumbuhan)”, tahun 2017, pada halaman 209. “Nama kedu sekarang hampir tidak dikenal lagi. Di masa Belanda, Kedu adalah nama sebuah karesidenan di Jawa Tengah dengan ibukotanya Magelang. Begitu wilayah karesidenan dihapus, yang tertinggal hanya nomor plat kendaraan saja, yaitu: AA. Nama Kedu pun bergeser jadi Magelang. Kedu pada mulanya adalah nama pohon, yaitu pohon kedu (Planchonella nitida). Menurut penelitian K. Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia IV (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan, 1987), pohon kedu memiliki nama daerah bermacam-macam. Di Jawa pernah ada yang menyebut kedubadutkemit, atau komadu. Di Sunda: karet anjing, di Madura: kedhu, di Sumba: katang, di Makassar: nato bulu. Pohon kedu dikenal pada masa lalu sebagai raksasa rimba dengan ketinggian mencapai 50 m dan gemangnya 4 m. di jawa tumbuh hingga dataran tinggi sekitar 1.200 m dpl. Batangnya lurus, kayunya berwarna putih, cukup keras dan relative kuat. Namun di Jawa jarang digunakan karena kalah dengan kayu-kayu lain yang sudah popiler di masyarakat. Dikabarkan, pada masa Belanda, kayu kedu pernah dicoba untuk gagang korek api di Kediri, tetapi dinilai tidak bagus sehingga ditinggalkan. Kini pohon kedu sudah menjadi pohon langka kendati namanya sempat diwariskan menjadi nama karesidenan, kecamatan dan desa. Desa di Jawa Timur/Jawa Tengah/DIY yang menggunakan nama kedu sebagai nama desa adalah Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung”, tulis Iman dalam bukunya itu.

Gambar 03: Pohon Badut Dewasa Menjulang Tinggi
(Sumber Foto: www.plantsofasia.com)

Sementara dalam laman online www.plantsofasia.com (diakses 05/09/2018:18:07 WIB), dijelaskan bahwa pohon ini bernama ilmiah Planchonella duclitan (Plaehonella) adalah keluarga dari Sapotaceae Sapotaceae, dalam Bahasa Indonesia pohon ini disebut: Badut, Kadut, Karet Anjing, Kedu, Kemadu, Kemit (Jawa), Kedhu (Madura), Balam Timah, Longgang (Sumatra), Beluan Batu Of Kedel, Nat Oblu, Sambiring, Taler (Sulawesi), Katang (Maluku). Sedangkan di Filipina disebut dengan nama Duklitan. Memiliki sinonim nama Beccariella balitbitan, Beccariella celebica, Beccariella duclitan, Chrysophyllum rhodoneurum, Chrysophyllum sundaicum, Planchonella celebica, Planchonella nitida, Planchonella sundaica, Pouteria duclitan, Pouteria nitida, Sideroxylon balitbitan, Sideroxylon celebicum, Sideroxylon duclitan, Sideroxylon nitidum, Sideroxylon ramiflorum, Sideroxylon sundaicum, Xantolis nitida. Asal pohon ini ialah dari pulau-pulau di Kepulauan Melayu. Saat ini pohon ini menjadi koleksi Kebun Raya Eka Karya (Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali – Indonesia).

Gambar 04: bunga Pohon Badut
(Sumber Foto: www.plantsofasia.com)

 

Editor : Noordin Djihad