Arung Kuno Bukit Ngaglik Jabung, Jejak Teknologi Perairan Masa Lampau

Arung Kuno Bukit Ngaglik Jabung, Jejak Teknologi Perairan Masa Lampau

Seorang Pengunjung Berdiri di Depan Mulut Arung (Sumber Foto: Alde Nabil Antoni, 2018)

Jika ditarik sejarahnya lebih jauh lagi ke belakang, sebenarnya teknologi pembuatan arung bisa jadi bukanlah teknologi asli Indonesia melainkan dari luar, berikut penjelasannya yang penulis kutip dari skripsi Mimin Yusuf Aminah, mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul skripsi “Perancangan Museum Agro-History Surowono Kabupaten Kediri Tema: Historicism”, tahun 2015, halaman 55, sebagai berikut: “Diperkirakan teknologi membuat arung atau terowongan ini berasal dari India yang mana pada saat itu sedang diadakannya pembuatan sambungan dari lembah Indus menuju lembah Gangga. Sedangkan India sendiri mendapatkan teknologinya dari Persia. Hal ini bisa terjadi karena pada abad ke 7-16 M terdapat penyebaran kebudayaan. Terowongan pada zaman dahulu mempunyai tiga fungsi yakni fungsi irigasi, fungsi drainase dan berfungsi untuk meluruskan aliran air”, tulis Mimin dalam skripsinya tersebut.                                                                                                      

Kemudian, rupa-rupanya jenis-jenis berbagai macam saluran irigasi hasil teknologi aquatik masa lampau tersebut, rupa-rupanya masih ada klasifikasinya berdasarkan permukaan tanah, berikut ini adalah tulisan sejarawan sekaligus arkeolog M. Dwi Cahyono dalam blog pribadinya, yang berjudul “Drainase Arkhais: Renungan di Penghujung Musim Hujan Revitalisasi-Refungsionalisasi Saluran Drainase Arkhais” (diakses dari www.patembayancitraleka.wordpress.com, 20/06/2018: 18.50 WIB), sebagai berikut:            “Ditilik dari keberadaan pada permukaan tanah, terdapat tiga macam saluran air, yaitu: (a) saluran air pada pemukaan tanah, yang dinamai ‘weluran, galengan, selokan’; (2) saluran air di bawah permukaan tanah, yang disebut “arung, urung-urung, gorong-gorong’; dan (3) diatas permukaan tanah, diistilahi dengan ‘talang, torong’. Unsur nama ‘talang, torong ataupun urung’ acap kedapatan sebagai nama desa ataupun dusun/dukuh/kampung. Demikianlah, saluran air bawah tanah hanyalah sebuah dari ragam jenis saluran air dalam tradisi teknologi hidrologis di Bhumi Jawa. Umumnya arung digalikan secara horisontal pada lapisan tanah padas beberapa meter di bawah permukaan tanah. Lapisan tanah padas terdapat di penjuru Malang Raya, padamana arung tersebut digalikan.”, tulis Dwi dalam blog pribadinya tersebut.

Para Pengunjung yang Antusias untuk Memasuki Arung yang Barusan Ditemukan
(Sumber Foto: Mouzza Zee, 2018)

 

Tentunya bukan pekerjaan gampang untuk membuat lobang gali yang serupa dengan ‘lobang gangsir’ ini. Undagi Pangarung memiliki kepiawaian khusus demikian, yang kemudian diwariskan kepada ‘para penggangsir’ pada masa berikutnya. Sebutan ‘Maling Curing’ atau ‘Maling Angguno’, yang memuat jalan rahasia untuk menjangkau suatu tempat sasaran pencurian dengan membuat lobang gali panjang di bawah tanah memberi gambaran tentang itu. Bahkan, hingga empat atau lima dasawarsa lalu mencuri dengan jalan ‘nggangsir’ seperti itu masih kedapatan di Jawa. Pada masa Jawa Kuna, instalasi air berada di bawah pengawasan petugas bernama ‘hulair’ atau ‘hulu air’, yang pada masa lebih kemudian dinamai ‘mantri ulu-ulu’. Untuk kepentingan inspeksi saluran air di malam hari, mulut arung di DAS Kali Lanang (misalnya, red) bahkan dilengkapi dengan lobang untuk menancapkan pangkal batang obor.”, lanjut Dwi dalam tulisan diblognya tersebut.                                                                                                  Temuan arung beberapa waktu lalu dengan ukuran mulut gua, lebar 115 cm, tinggi 310 cm dan panjang koridor lorong 99,2 cm, ini patut mendapat apresiasi dari pemerintah dan dinas terkait setempat. Hal ini dikarenakan dua hal, pertama cukup jarang menemukan arung dalam kondisi yang lumayan utuh seperti ini dengan akses masuk yang cukup mudah. Kedua animo masyarakat yang tinggi  untuk menyaksikan arung dan ingin mengetahui kesejarahan dan fungsi arung perlu mendapatkan perhatian dari pihak terkait yang berwenang. Hal tersebut dikarenakan situs tersebut jika dikelola dengan benar dapat dijadikan obyek wisata sejarah dan heritage bagi warga Malang. Semoga temuan arung ini dapat menambah khazanah temuan tinggalan situs cagar budaya di wilayah Malang Raya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah bagi masyarakat. Semoga!

 

Penulis: Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [JJM])

Editor: Shuvia Rahma