Arung Kuno Bukit Ngaglik Jabung, Jejak Teknologi Perairan Masa Lampau

Arung Kuno Bukit Ngaglik Jabung, Jejak Teknologi Perairan Masa Lampau

Seorang Pengunjung Berdiri di Depan Mulut Arung (Sumber Foto: Alde Nabil Antoni, 2018)

  1. Geger Temuan Arung Kuno di Dusun Gedangan, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung

TEPAT pada 11 Juni 2018 di Bukit Ngaglik yang berada di RT 22, RW 03, Dusun Gedangan, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ditemukan gua yang diperkirakan merupakan peninggalan kuno.

Gua tersebut terbuka oleh backhoe. 6 hari kemudian, foto temuan gua tersebut di unggah ke forum media sosial Facebook, di Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) dan juga beberapa group Whatsapp bertema heritage, oleh akun bernama Mouzza Zee pada 17 Juni 2018, pukul 13:42 WIB. Hasilnya postingan tersebut mendapatkan sebanyak 2.500 like, 56 kali dibagikan dan mendapat 919 komentar.

Tanggapan para netizen cukup beragam, banyak yang mengira gua tersebut adalah peninggalan masa penjajahan Jepang. Info penemuan gua yang viral membuat penulis beserta rekan-rekan dari Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM) dan juga perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (DISPARBUD) Kabupaten Malang meninjau lokasi temuan pada tanggal 18 Juni 2018 ditemani pemuda sekitar, Udin (31), yang sehari-hari mengatur parkir disekitar situs dan juga ditemani Khosin (33), kerabat pemilik tanah situs tersebut berada.

Udin menjelaskan, gua ditemukan pada tanggal 11 Juni 2018, saat pengerukan tanah dengan backhoe. Pengerukan tersebut bertujuan untuk mengumpulkan tanah guna keperluan pengurukan proyek jalan tol Pandaan-Malang. Berita mengenai temuan ini menjadi sangat viral dan masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi ini beramai-ramai.

“Yang datang tidak hanya masyarakat desa, tetapi di luar desa, Kota Malang bahkan ada yang jauh-jauh dari Jember. Untuk penghasilan parkir masyarakat dan pemuda sini lumayanlah, sehari jika agak sepi saja kami bisa dapat sekitar Rp 100 ribu,” cerita Udin sambil mengantarkan kami menuju mulut gua.

Ia menjelaskan, saat pertama kali ditemukan, setengah dari ketinggian gua ini tergenang oleh air, sehingga ini menyulitkan warga untuk memeriksa isi gua ini. Akhirnya untuk masuk dan mengarungi gua, warga menggunakan batang pisang sebagai rakit.

“Kini kami sudah buatkan jembatan dari bambu agar memudahkan pengunjung masuk dan berjalan sampai ujung gua ini. Namun sayang gua yang sebelah barat pintu masuknya sudah diuruk tanah, oleh pemiliknya, semoga ke depan urukan itu dapat dibuka kembali,” tambah udin.

Khosim menambahkan, dulu sebelum adanya aktifitas pengerukan tanah, ujung gua berada di atas bukit. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Gua Landak karena warga yang tengah berkebun sering kali melihat landak keluar masuk dari mulut gua.

“Tanah tempat gua ini berada adalah milik Pak Lik (Paman) saya. Dulu disekitar lubang masuknya landak tersebut sekitar tahun 1996-an ditemukan beberpa pecahan piring keramik. Kemudian di tanah milik ibu saya sekitar 150 meter timur mulut gua ini ditemukan juga sebanyak 2 kg uang kepeng (pis bolong) sayang sekali uang tersebut sudah hilang diambil orang”, kenang Khosin.

Kemudian di sekitar gua landak ini terdapat juga kompleks kuburan kuno tertua di Desa Sukolilo yang bisa kita lihat sekarang, menurut keterangan warga sekitar, disalah satu makam tersebut terdapat makam Mbah Bagong, yaitu tokoh bedah kerawang yang membabat alas Dusun Gedangan.

“Sayang kami tak tahu yang mana makam Mbah Bagong tersebut,” ujar Khosin sembari mengantarkan kami lewat kompleks pemakaman tersebut.

Khosin melanjutkan, Bukit Ngaglik tempat gua dikelilingi oleh Sungai Sasi atau Wulan di sebelah utaranya. Sungai itu melingkar mengelilingi bukit dan bertemu dengan Sungai Ipik yang mata airnya berasal dari Coban Jahe. Pertemuan antara Sungai Sasi dan Sungai Ipik itu disebut dengan Tempuran, yang alirannya menuju Sungai Jilu. Didekat Sungai Jilu, terdapat tempat bernama Kedung Guyangan, dahulu digunakan warga untuk memandikan ternak.

“Nah, disekitar tempat itulah dahulu tahun 1996-an ditemukan banyak uang kepeng (pis bolong, red). Selain itu bukit ini juga kaya akan belik (sumber air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, red), yang bisa kita jumpai hampir tak sampai 100 meter ketika ketika kita mengelilingi bukit ini,” lanjut dia.

Temuan arung yang nyaris utuh ini bisa dikatakan istimewa. Pasalnya, kebanyakan temuan arung sebelumnya, selalu dalam kondisi tidak sempurna, alias sebagian besar bagiannya telah rusak. Temuan ini boleh dikatakan semakin memperkaya khazanah tinggalan cagar budaya di Malang Raya, jika tahun lalu ramai ditemukan patirthan (kolam air kuno, red) di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, maka tahun ini penemuan yang viral adalah berupa arung.

Boleh dikatakan pula temuan ini berkah di balik musibah. Musibah karena bagian tengah arung ini hilang karena pengerukan oleh backhoe, tapi berkah karena berkat pengerukan itu kita semua menjadi tahu bahwa di lokasi tersebut terdapat sebuah arung yang boleh dikatakan masih cukup utuh. Di awal pembahasan sudah digambarkan kondisi lingkungan tempat arung tersebut berada, tibalah kita pada suatu pertanyaan, apa sebenarnya arung itu dan apa fungsi dari arung tersebut dibuat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak ulasan berikut ini!