Ada Ruh Diperbincangkan Mahathir bersama Najwa Shihab

Ada Ruh Diperbincangkan Mahathir bersama Najwa Shihab

Oleh : Mariyatus Sholeha*

Siang ini saya gabut karena tingkat kemalasan untuk mengerjakan skripsi tinggi. Ingin pulang ke kampung halaman, eh di sini masih banyak tanggungan. Ingin main ke kota budaya tapi skripsi masih menjadi alasan untuk menahan agar tidak keluar. Ingin keluar sama pacar, tapi hubungan sedang renggang. Ingin kerja, lagi-lagi belum wisuda dan skripsi belum selesai.
Berada di titik terjenuh dan takut akan masa depan, mungkin bukan hanya saya yang pernah merasakan. Gelisah yang bertuan dalam diri setiap hari membuat saya merasa sepi dan ingin pergi bahkan lari.

Notifikasi youtube Najwa Shihab muncul di smartphone saya. Konten Najwa Shihab memang selalu saya nantikan, hal apapun itu. Selain karena saya suka pola pikirnya, saya juga menyegani Abinya yaitu Quraish Shihab.

Lanjut…

Konten youtube dengan durasi 37:52 membuat saya exited menonton dengan perbincangan yang tidak kaku, membahas berbagai hal.
Dr. Mahathir Muhammad perdana menteri tertua di dunia, berusia 94 Tahun. Banyak track record. Mulai dari segan mengambil kebijakan tidak populer hingga berani mengatakan sesuatu tanpa tedeng aling-aling untuk isu sensitif sekalipun. Berani mengurangi pendidikan agama dalam kurikulum sekolah, padahal di negaranya yaitu Malaysia adalah negara yang mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam.

”Kita perkenalkan pembelajaran agama awal-awal lagi. Tetapi kita dapati bahwa guru-guru agama ini tidak bertumpu kepada ajaran agama yang sunnah. Mereka hanya menentukan berkenaan dengan menunaikan ibadah wajib (fardu ain) seperti salat, puasa, zakat, maupun ibadah haji. Tetapi tentang cara hidup orang Islam, mereka tidak mengajarkannya. Sebaiknya kita dakwah bahwa Islam adalah satu cara hidup dan cara hidup di mana mempunyai nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam ini tentu tidak diajarkan. Maka tidak perlu banyak waktu, yang terpenting ialah pelajaran agama tertuju kepada ajaran Islam terutama yang berkenaan cara hidup orang Islam” ucap pak Mahathir.

Dari perbincangan yang sangat awal ini, saya sudah merasa terketuk menyadari serta berpersepsi, akankah cara hidup beragama saya adalah cara hidup Islam atau hanya sekadar melakukan ritual semata, tanpa melihat dan memperhatikan, bahkan mengaplikasikan nilai-nilai keislaman dan cara hidup semestinya orang Islam lakukan dikehidupan sehari-hari saya?. Apakah saya sudah memperhatikan sumber kitab hidup saya yaitu Al-Qur’an?. (merenung)

Singkat cerita, banyak yang bisa saya pelajari dan saya dapat dalam perbincangan yang menyentil pikiran spaneng saya. Diusia sesepuh itu, 94 tahun masih bekerja 18 jam sehari. Bekerja mulai jam 6 pagi hingga jam 7 malam. Melelapkan pejam dijam-jam sunyi dari jam 23.00-00.00 malam. Masih diberi anugerah dan rezeki kesehatan oleh Tuhan. Kalau kita sakit tidak banyak yang bisa kita lakukan, maka kesehatan itu penting. Percuma kalau kita tua tapi tak bisa apa-apa. Salah satunya yaitu dengan memperhatikan pola makan serta olahraga. Tak lupa melakukan hobby yang disukai.

Hal yang masih saja menyentuh dan membuat saya memutuskan share tulisan dan masih mengetik review saya sampai detik ini. Bapak Dr.Mahathir menjawab saat Najwa Shihab bertanya. “Apa yang sebenarnya tidak kita ketahui tentang Bapak?”
“Saya adalah orang yang pemalu, tetapi saya harus mengatasi itu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya harus bekerja maka saya tidak boleh hanya mengikuti kehendak diri. Jadi suka tidak suka saya harus bertemu dengan orang-orang”.

Melawan rasa malu dan tidak boleh selalu mengikuti kehendak diri kita sendiri (malas mengerjakan skripsi mungkin masuk kategori wkwkwk), merupakan pelajaran yang bisa saya gunakan, mungkin juga kalian.
Semangaatt kepada manusia yang sedang bertarung dengan diri sendiri. Kita pasti bisa.(*)

*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, IAIN Jember sekaligus anggota penerima beasiswa Bank Indonesia Jember.