14 Maba Asing belajar di Unisma

14 Maba Asing belajar di Unisma

Ketua Pusat Pengembangan Bahasa Asing (P2BA) Mutmainnah Mustofa mengenakan jas almamater Unisma. (Foto: Haris Sugiharto-aremamedia.com)

MALANG – Di tahun ajarsn 2018/2019 ini Unisma menerima 14 mahasiswa asing dari berbagai negara melalui Program Darma Siswa. Ketua Pusat Pengembangan Bahasa Asing (P2BA) Mutmainnah Mustofa menuturkan mereka ini berasal dari negara yang berbeda di antaranya Mesir, Syiria, Jepang, Korea, Inggris serta Lybia.

“Sebenarnya tidak semua mahasiswa asing ini dari program Darma Siswa. Terrdapat 10 mahasiswa asing yang datang dan belajar dengan biaya sendiri di Unisma,” ungkap Mutmainnah.

Ditambahkannya, Unisma telah menyiapkan beberapa program khusus untuk seluruh mahasiswa asing ini. Mereka akan belajar tentang seni, budaya hingga mengenal seni yang khas dimiliki oleh warga NU. Selain itu bekerja sama dengan SMAINUS untuk belajar proses membatik.

“Universitas Islam Malang telah menetapkan milestone pengembangan kampusnya dan didalamnya terdapat terminasi rentang waktu, dan ditargetkan tahun 2019 mendatang Unisma sudah menjadi Riset University. Setelah menjadi kampus berbasis riset, selanjutnya Unisma akan memulai menjadi Entrepreneur University di tahun 2023,” tandasnya.

Sementara itu ,Wakil Rektor 1 Unisma Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D mengungkapkan jika tahapan-tahapan pengembangan itu jika tidak diupayakan secara serius pencapaiannya maka tujuan Unisma untuk menjadi World Class University hanya akan berada di atas kertas.

“Tahun 2027 Unisma sudah akan menjadi World Class University dan salah satu indikatornya adalah jumlah mahasiswa Internasional di unisma harus mencapai 5 persen dari total mahasiswa Unisma keseluruhan,” ujarnya lagi.

Prof Junaidi mengakui hal ini memang berat untuk dicapai. Namun begitu sudah mendeklarasikan diri akan menjadi kampus kelas dunia, maka upaya-upaya harus kita lakukan mulai dari sekarang termasuk meningkatkan jumlah mahasiswa internasional yang belajar di Unisma.

“Dari persentase 5 persen itu bukan harus dari pendidikan gelar tapi bisa juga berasal pendidikan nongelar. Untuk ukuran sementara di Indonesia, pendidikan nongelar dapat dihitung sebagai poin apabila berlangsung paling singkat selama dua minggu. Karena mahasiswa Internasional yang ada di Unisma ini akan belajar selama satu tahun maka sudah tentu mereka akan mendapatkan semua fasilitas penuh termasuk memiliki Nomor Pokok Mahasiswa,” urainya.

Mendatang, lanjutnya, Unisma bisa meningkatkan jumlah mahasiswa Internasionalnya melalui berbagai macam MoU yang telah ditandatangani bersama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia seperti Malaysia, Taiwan, Uzbekistan dsb. (*)

Pewarta : Haris Sugiharto
Editor : Noordin Djihad