Mbah Rawi, Penyebar Agam Islam yang Makamnya di Kampung Kwangsan, Sawojajar

Mbah Rawi, Penyebar Agam Islam yang Makamnya di Kampung Kwangsan, Sawojajar

Gambar 01: Tulisan Situs Makam Mbah Rawi di Kampung Kwangsan, Kelurahan Sawojajar (Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

MALANG – Situs Mbah Rawi terletak di pemakaman umum warga Sawojajar Gang V atau tak jauh dari Jembatan Kwangsan (Sawojajar) dipingiran Sungai Mewek dan Sungai Bango. Pada situs ini terdapat makam tokoh yang dikeramatkan masyarakat sekitar bernama “Mbah Rawi”. Menurut penuturan Suyono (39), adik sesepuh desa, Mbah Rawi adalah tokoh penyebar Islam di Kampung “Kwangsan” (nama kuno desa di wilayah sekitar Ranugrati Gang III dan Sawojajar Gang V) pada masa Wali Songo. Menurut beliau Mbah Rawi adalah tokoh yang membantu penyebaran Islam Ki Gribig. Beliau juga mendirikan pondok pembelajaran agama Islam sekaligus mendirikan padepokan silat sehingga Kampung Kwangsan dahulu dikenal dengan tempatnya para jawara silat.

Gambar 02: Suasana Makam Mbah Rawi dan Istrinya
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Makam ini terletak pada bukit yang menggunduk (Sitinggil) di antara aliran anak Sungai Mewek (warga menyebut sungai kecil ini Kali Anyar) dan DAS Sungai Bango. Makam ini terletak di tengah dua pohon besar (Turumbuk?). Sekilas situs ini secara ekologi mirip sekali dengan Punden Sentono yang ada di Dusun Kebalon, Cemorokandang. Di sekitar makam ini terdapat serakan batu bata kuno berukuran besar yang banyak ditutupi lumut. Semakin menunjukkan bahwa daerah ini dahulu adalah tempat sakral pada masa sebelum Islam datang. Sekitar 400 m dari makam terdapat sebuah batu lumpang besar yang teronggok di dekat sungai Mewek berdiameter 80 cm, lubang 26 cm, dan tinggi dari permukaan tanah 25 cm. Warga sekitar menyebutnya dengan “LUMPANG LANANG”.

Sementara itu juga terdapat batu lumpang yang lain di seberang sungai, tepatnya di Gang Mandiri I RT 05 RW 01. Lumpang tersebut terletak di sebalah kandang milik warga dengan ukuran: diameter: 85 cm, lubang: 25 cm, dan tinggi dari permukaan tanah: 15 cm (karena terkubur dalam tanah). Warga sekitar menyebut lumpang ini dengan sebutan “LUMPANG WEDOK”. Menurut penuturan warga sekitar, beberapa dari mereka berusaha membuang batu lumpang tersebut dengan cara menggelindingkannya di sungai Mewek, tetapi besoknya lumpang tersebut sudah kembali lagi di tempat seperti sedia kala. Usaha yang amat sangat disayangkan karena upaya melenyapkan benda-benda kepurbakalaan sama halnya dengan melenyapkan keasalmulaan.

Gambar 03: Artefak Lumpang “Lanang” Tak Jauh dari Situs Makam Mbah Rawi
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Lumpang batu (watu lumpang-istilah Jawa) adalah sebuah merupakan benda megalit yang berlubang berbentuk lingkaran (sebuah atau lebih). Fungsinya sebagai keperluan upacara yang berhubungan dengan pemujaan arwah leluhur (Sumber: Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia I, “Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Prasejarah di Indonesia (Edisi Pemutakhiran)”, tahun 2010, halaman 501). Meski demikian aada fungsi yang lain yakni digunakan sebagai alat pertanian, untuk menumbuk biji-bijian. Lumpang batu (stone mortar) sendiri adalah artefak dari tradisi megalitik tua (older megalith tradition), dengan tarikh relatif 2500-1500 SM, atau sezaman dengan masa bercocok tanam. Penggunaan lupang batu berlanjut hingga masa perundagian, bahkan sampai beberapa dasawarsa lalu (Sumber: M. Dwi Cahyono, “Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, tahun 2013, halaman 70).

Gambar 04: Artefak Lumpang “Wedok” Di Gang Mandiri I Seberang Situs Makam Mbah Rawi
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Lumpang batu juga terdapat di berbagai tempat di Indonesia misalnya di Karangdalam-Sumatera Selatan, ditemukan lumpang batu bersama sebuah menhir di atas bangunan punden berundak dari batu. Di Gunung Kaledong Lembah Leles, ditemukan juga lumpang batu dengan dolmen semu dan ada juga di kompleks Batu Kandang yang terletak pada perbatasan desa Ngasinan dan Bodagan di Matesih ditemukan batu lumpang yang berdiameter dan kedalamannya 15 cm (Sumber: Brahmantyo, “Perwara Sejarah”, tahun 1995 halaman 46).

Gambar 05: Fragmen Batu Bata Kuno Berukuran Besar di Sekitar Situs Makam Mbah Rawi
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa wilayah desa disekitar situs Mbah Rawi dahulu adalah sebuah daerah yang dulu telah terdapat tempat sosio-budaya yang berkesinambungan dalam lintas masa yang berbeda dan tentu merupakan daerah cukup kuno. Sebenarnya ada situs lain yang belum sempat tim penulis kunjungi yaitu “Makam Mbah Masrani” yang menurut Pak Suyono (39) dan warga sekitar adalah ayah dari Ki Ageng Gribik, penyebar Islam yang dimakamkan di Madyopuro. Lokasi makamnya dibelakan SMP/Panti Asuhan Baitul Makmur Gang 17 di Sawojajar (wawancara, 11/05/2016). Mungkin ada juga peninggalan arkeologis disana mengingat lokasinya berada di DAS Kali Bango. Patut dijadwalkan untuk berkunjung disana mengingat daerah ini adalah pinggiran dari Sawojajar yang telah berubah modern akan tetapi masih mengandung kekayaan sejarah dan tinggalan kepurbakalan yang cukup kontras.(*)

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Pengambil Gambar:Moch. Dwi Novianto (Anggota Komunitas J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad